Peringatan Hari Lahir Pancasila Diapresiasi

Bupati Barito Kuala (Batola) Hj Noormiliyani AS memimpin jalannya peringatan Hari Lahir
Pancasila Tahun 2019, Sabtu (01/06/2019).
Upacara yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Batola ini juga dihadiri Wakil Bupati H Rahmadian Noor, Penjabat Sekda H Abdul Manaf, Wakapolres Batola Kompol Handoyo Yudhi Santoso SIK MIK, Ketua Pengadilan Agama Rusdiana SAg, para pimpinan SKPD, dan para pimpinan organisasi wanita beserta pengurus.
Walau dalam suasana libur, upacara yang berlangsung hikmat ini diikuti banyak peserta mulai pasukan TNI, Polri, Satpol-PP, BNNK, dan para anggota Korpri ini.
“Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh peserta yang telah berkenan mengikuti jalannya peringatan Hari Lahir Pancasila ini meski dalam suasana libur dan banyak yang memanfaatkan untuk mudik,” ucap Noormiliyani.
Bupati perempuan pertama di Kalsel ini berpandangan, dengan kehadiran pada upacara menggambarkan bahwa para peserta benar-benar mencintai Pancasila.
“Dengan mencintai Pancasila berarti mencintai juga Al-Quran karena isi dari Pancasila diambil sesuai kandungan Al-Quran, dengan mencintai Al-Quran berarti para peserta merupakan muslim sejati,” pungkas Noormiliyani yang disambut tepuk tangan peserta upacara.
Menyinggung tentang pelaksanaan Peringatan Hari Kelahiran Pancasila, Noormiliyani sesuai sambutan Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Hariyono, mengatakan Pancasila sebagai suatu keyakinan dan pendirian yang asasi harus terus diperjuangkan.
Menurutnya, Pancasila hraus tertanam dalam hati yang suci dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena berkat Pancasila yang berkeadilan dengan nilai-nilai inklusif, toleransi dan gotong-royong keberagaman menjadi suatu berkah.
Dalam konteks itulah, sesuai pesan Presiden Joko Widodo, sebutnya, memperingati dan merayakan Hari Kelahiran Pancasila setiap tanggal 1 Juni merupakan suatu keniscayaan.
Dikatakan, peringatan Hari Kelahiran Pancasila bukan suatu yang terpisah dari momentum perumusan “Piagam Jakarta” oleh panitia kecil tanggal 22 Juni dan pengesahan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 oleh panitia persiapan kemerdekan Indonesia tanggal 18 Agustus 1945 yang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
“Dengan demikian perdebatan tentang kelahiran Pancasila sudah tak diperlukan namun yang diperlukan sekarang bagaimana mengamalkan dan mengamankan Pancasila secara simultan dan terus menerus,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan, Indonesia sebagai negara yang inklusif dan tidak chauvinis diperlukan pengelolaan unit kultural dan unit politik secara dialektis dalam arti keberagaman harus dikelola dan dikembangkan untuk membangun “tamansari kebudayaan” yang memungkinkan semua makhluk hidup tumbuh sesuai dengan ekosistem yang sehat.
Untuk itu, lanjutnya, diperlukan kesadaraan dan pemahaman agar saling menghormati, bekerjasama, bergotong royong dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada melalui budaya poltik kewargaan yang demokratis dengan menumbuhkan dan merawat harapan.
“Melalui Peringatan Hari Kelahiran Pancasila perlu dijadikan sebagai sumber inspirasi “politik harapan” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.